Belajar Ikhlas

Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus.
Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga,
salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan.

Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak dengan cepat, sehingga ia tidak mungkin ia bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, “Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melempakan sepatu Anda yang sebelah juga ?” Si bapak tua menjawab, “Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.”

Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup –
jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau
karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.

Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita. Continue reading

Cara Niat yang Ikhlas dalam Beramal

Seorang hamba yang menginginkan keikhlasan dalam seluruh aktifitasnya hendaklah berniat dalam melaksanakan aktifitasnya dengan niat-niat sebagai berikut:

– Hendaklah dalam beramal dilandasi oleh keimanan kepada Allah, dan ini adalah niat yang paling prinsip karena tanpa keimanan semua amalan akan menjadi sia-sia, tidak berarti dan tidak bernilai sedikitpun di sisi Allah.
– Berniat cinta Allah.
– Berniat mengagungkan dan memuliakan Allah.
– Berniat untuk taat dan beribadah kepada Allah.
– Berniat mencari ridha Allah.
– Berniat mendapatkan kedamaian dan kelezatan bersama Allah ketika berbuat ketaatan dan beribadah kepadaNya.
– Berniat mengharapkan kenikmatan dan kelezatan memandang Wajah Allah pada hati kiamat dan ketika di surga.
– Berniat agar dijadikan istiqamah.
– Berniat agar mati husnul khatimah.
– Berniat mencari pahala, ganjaran dan balasan kebaikan dari Allah di dunia dan di akhirat.
– Berniat mendapatkan surga.
– Berniat takut mati su’ul khatimah.
– Berniat takut hukuman, ancaman dan adzab Allah di dunia dan di akhirat.
– Berniat takut neraka dan agar dibebaskan dari api neraka.
– Dan berbagai macam niat-niat syar’i lainnya. Continue reading

Kewajiban Sesama Muslim

Dari Abu Hurairah ?Radhiallahu ?Anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam:
?Hak sesama muslim ada enam:
-Apabila berjumpa maka ucapkanlah salam,
-Apabila diundang penuhilah undangannya,
-Apabila meminta nasehat maka nasehatilah,
-Apabila bersin lalu memuji Allah (mengucapkan Alhamdulillah) maka doakanlah (Yarhamukallah/semoga Allah merahmatimu),
-Apabila sakit maka jenguklah,
-Dan apabila meninggal dunia maka antarkanlah jenazahnya.? (HR. Muslim)

Kandungan Hadis:

-Islam adalah agama cinta, kasih sayang dan persaudaraan

-Anjuran untuk mengucapkan salam apabila berjumpa sesama muslim

-Yang lebih muda memberi salam yang tua, yang berjalan memberi salam yang duduk, yang sedikit memberi salam yang banyak dan yang naik kendaraan memberi salam yang berjalan kaki

-Anjuran untuk memenuhi undangan sesama muslim apabila diundang selama tidak ada kemungkaran dalam acaranya

-Anjuran untuk memberi nasehat apabila diminta menasehati Continue reading

Sombong dan Pengaruhnya dalam kehidupan

Sombong atau yang sering kita kenal dengan istilah kibr, takabur dan istikbar, ketiganya hampir semakna, merupakan suatu kondisi seseorang di mana ia merasa lain dari yang lain (dengan keadaan tersebut) sebagai pengaruh i?jab (kebanggaan) terhadap diri sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya lebih tinggi dan besar daripada selainnya.

Maka tidak akan berlaku sombong, kecuali orang yang merasa dirinya besar dan tinggi, dan ia tidak merasa tinggi atau besar, kecuali karena adanya keyakinan, bahwa dirinya memiliki keunggulan, kelebihan dan kesempur-naan yang dengannya ia menganggap berbeda dengan orang lain.

Ada beberapa sebab yang mendorong seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain, sehingga melahirkan kesombongan dalam jiwa, yaitu:

1. Sombong dengan Ilmu

Ada sebagian thalib ilmu atau orang yang diberi pengetahuan oleh Allah, namun malah justru menjadikan dirinya sombong. Ia merasakan dirinyalah yang paling pandai (alim), menganggap rendah orang lain, menganggap bodoh mereka dan selalu ingin agar dirinya mendapatkan penghormatan, pelayanan dan fasilitas khusus dari mereka. Dia memandang, bahwa dirinya lebih mulia, tinggi dan utama di sisi Allah daripada mereka.

Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sombong dengan ilmunya: Continue reading

Keutamaan dan Etika Salam

I. Keutamaan Salam.

• Mengucapkan salam merupakan salah satu perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam, sebagaimana dalam hadits Barra’ bin Azib, ia berkata: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk melakukan tujuh perkara, yaitu; menjenguk orang yang sakit, mengikuti jenazah, mendo’akan orang bersin yang mengucapkan alhamdulillah, membantu orang yang lemah, menolong orang yang dizhalimi, mengucapkan salam dan memenuhi sumpah.” (Muttafaq alaih).

• Menimbulkan kasih sayang antar sesama, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan tidak beriman sehingga kamu saling mencintai. Dan maukah aku tunjukkan suatu perbuatan yang bisa membuatmu saling mencintai; yaitu tebarkan salam antar sesamamu.” (HR. al Bukhari – Muslim).

• Merupakan amalan yang terbaik dalam Islam. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam: “Apakah amalan yang paling baik dalam Islam?” Beliau menjawab:
“Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang telah kamu kenal maupun yang belum kamu kenal”. (HR. al Bukhari – Muslim). Continue reading