Ah, indah sekali..!

17241uz8h9xmyuzAda sebuah cerita dari teman yg dikirim lewat email…
It’s so nice.. I hope u want to read it ^^

**********

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku.

Mobil pengantin berhenti di depan flat kami yg
cuma berkamar satu.

Sahabat2ku menyuruhku untuk membopongnya begitu
keluar dari mobil.

Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.
Ia kelihatan malu2.

Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia.

Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu.
Hari2 selanjutnya berlalu demikian simpel seperti
secangkir air bening.
Kami mempunyai seorang anak, aku terjun ke dunia
usaha dan berusaha
untuk menghasilkan banyak uang.

Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih di
antara kami pun semakin surut.

Ia adalah pegawai sipil.

Setiap pagi kami berangkat kerja bersama2 dan
sampai di rumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak
kami sedang belajar di luar negeri.

Perkawinan kami kelihatan bahagia.

Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh
perubahan yg tidak kusangka2.

Liz hadir dalam kehidupanku.

Waktu itu adalah hari yg cerah.

Aku berdiri di balkon dengan Liz yg sedang
merangkulku.

Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya.

Ini adalah apartement yg kubelikan untuknya.

Liz berkata , “Kamu adalah jenis pria terbaik yg
menarik para gadis.”
Kata2nya tiba-tiba mengingatkanku akan istriku.

Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata,
“Pria sepertimu,begitu sukses, akan menjadi sangat
menarik bagi para gadis.”

Berpikir tentang ini, aku menjadi ragu2.
Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku.

Tapi aku tidak sanggup menghentikannya.

Aku melepaskan tangan Liz dan berkata, “Kamu harus
pergi membeli beberapa perabot, OK? Aku ada
sedikit urusan dikantor.”

Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah
berjanji menemaninya.
Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin
jelas di pikiranku walaupun
kelihatan tidak mungkin.

Bagaimana pun,aku merasa sangat sulit untuk
membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimana
pun kujelaskan, ia pasti akan sangat terluka.

Sejujurnya,ia adalah seorang istri yg baik.

Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam.

Aku duduk santai di depan TV.
Makan malam segera tersedia.

Lalu kami akan menonton TV sama2.

Atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan
tubuh Liz.

Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “Seandainya
kita bercerai, apa yg
akan kau lakukan? “

Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa
bersuara.

Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah
sesuatu yg sangat jauh
darinya.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan
menghadapi kenyataan
jika tahu bahwa aku serius.

Ketika istriku mengunjungi kantorku, Liz baru saja
keluar dari ruanganku.
Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata
penuh simpati dan
berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu
selama berbicara dengan nya..

Ia kelihatan sedikit curiga.

Ia berusaha tersenyum kepada bawahan2ku.
Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Liz berkata padaku,”Ceraikan dia, OK?
Lalu kita akan
hidup bersama.”

Aku mengangguk.

Aku tahu aku tidak boleh ragu2 lagi.
Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam,
ku pegang tangannya,

” Ada sesuatu yg harus kukatakan”..

Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara.

Sekali lagi aku melihat ada luka di matanya.

Tiba2 aku tidak tahu harus berkata apa.

Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir.

“Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini
dengan serius tapi tenang.

Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata2ku, tapi ia
bertanya secara
lembut, “Kenapa?”
“Aku serius,” aku menghindari pertanyaannya.

Jawaban ini membuat ia sangat marah.

Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,”Kamu
bukan laki2!”

Pada malam itu, kami sekali saling membisu.

Ia sedang menangis..
Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi
dengan perkawinan kami.
Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg
memuaskan sebab hatiku telah
dibawa pergi oleh Liz.

Dengan perasaan yg amat bersalah, aku menuliskan
surai perceraian, istriku memperoleh rumah, mobil
dan 30% saham dari perusahaanku.

Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi
beberapa bagian..

Aku merasakan sakit dalam hati.

Wanita yg telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang
menjadi seorang yg asing dalam hidupku.

Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yg telah
kuucapkan.

Akhirnya ia menangis dengan keras di depanku, di
mana hal tersebut tidak
pernah kulihat sebelumnya.

Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan
untukku.

Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa
minggu ini dan sekarang sungguh2 telah terjadi ..

Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah
menemui klienku.

Aku melihat ia sedang menulis sesuatu.

Karena capek aku segera ketiduran.

Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia
masih menulis.

Aku tertidur kembali.

Ia menuliskan syarat2 dari perceraiannya: ia tidak
menginginkan apapun
dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan
sebelum menceraikannya, dan
dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama
seperti biasanya.
Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera
menyelesaikan
pendidikannya, dan liburannya adalah sebulan lagi,
sehingga ia tidak ingin
anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.

Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,
“Apakah kamu
masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita
ketika pada hari
pernikahan kita?”

Pertanyaan ini tiba2 mengembalikan beberapa
kenangan indah kepadaku.
Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku
di lenganmu”, katanya,
“Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu
akan tetap membopongku pada
waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir
bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku
keluar dari kamar tidur ke pintu ..”

Aku menerima dengan senyum.
Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg
telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri
dengan suasana romantis.

Aku memberitahukan Liz soal syarat2 perceraian
dari istriku.

Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya.

“Bagaimana pun trik yg ia lakukan, ia harus
menghadapi hasil dari perceraian ini,” katanya
mencemooh.
Kata2nya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi
sejak kukatakan perceraian itu.

Kami saling menganggap orang asing.

Jadi ketika aku membopongnya di hari pertama, kami
kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk
punggung kami, “Wah, papa membopong mama, mesra
sekali.”

Kata2nya membuatku merasa sakit..

Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu,
aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku.
Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,
“Mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan
ini kepada anak kita.”

Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.

Aku melepaskan ia di pintu.

Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah.

Ia merebah di dadaku, kami begitu dekat sampai2
aku bisa mencium wangi di bajunya.

Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak
melihat dengan mesra wanita ini.

Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa
kerut tampak di wajahnya.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “Kebun di
luar sedang dibongkar, hati2
kalau kamu lewat sana .”

Hari keempat, ketika aku membangunkannya, aku
merasa kalau kami masih
mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih
membopong kekasihku
di lenganku.

Bayangan Liz menjadi samar.

Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan
aku beberapa hal,
seperti, di mana ia telah menyimpan baju2ku yg
telah ia setrika, aku harus hati2
saat memasak, dll.

Aku mengangguk.

Perasaan kedekatan terasa semakin erat.

Aku tidak memberitahu Liz tentang ini.

Aku merasa begitu ringan membopongnya.

Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa
membuatku semakin kuat.

Aku berkata padanya, “Kelihatannya tidaklah sulit
membopongmu sekarang.”

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu
untuk membopongnya keluar.

Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa
menemukan yg cocok.
Lalu ia melihat, “Semua pakaianku kebesaran.”

Aku tersenyum.

Tapi tiba2 aku menyadarinya ia semakin kurus itu
sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan
disebabkan aku semakin kuat.
Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati.

Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit..

Tanpa sadar kusentuh kepalanya.

Anak kami masuk pada saat tersebut.
“Pa, sudah waktunya membopong mama keluar.”

Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya
keluar menjadi bagian yg penting.

Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya
dan merangkulnya dengan erat.

Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan
berubah pikiran pada detik terakhir.

Aku menyanggah ia di lenganku, berjalan dari kamar
tidur, melewati ruang
duduk ke teras.

Tangannya memegangku secara lembut dan alami.

Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami
kembali ke hari pernikahan kami.

Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku
sedih.

Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya
dilenganku, aku melangkah dengan berat..

Anak kami telah kembali bersekolah.

Istriku berkata, “Sesungguhnya aku berharap kamu
akan membopongku sampai kita tua”.

Aku memeluknya dengan kuat dan berkata, “Antara
kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita
begitu mesra.”

…………………………………..

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat
menguncinya.

Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku
berubah.

Aku menaiki tangga.
Liz membuka pintu.

Aku berkata padanya, “Maaf Liz, aku tidak ingin
bercerai. Aku serius”.

Ia melihat kepadaku, kaget.

Ia menyentuh dahiku, “Kamu tidak demam”.

Kutepiskan tangannya dari dahiku, “Maaf Liz, aku
cuma bisa bilang maaf kepadamu, aku tidak ingin
bercerai.

Kehidupan rumah tanggaku membosankan karena ia dan
aku tidak bisa merasakan nilai2 dari kehidupan,
bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.
Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk
ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan
menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu.”
Liz tiba2 seperti tersadar.

Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup
pintu dgn kencang dan tangisannya pun meledak.

Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor.

Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga,
kupesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.
Penjual bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu
ucapan?

Aku tersenyum, dan menulis,

“Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua..”

***
From: stephanie serep
Subject: aku akan terus membopongmu

2 Responses

  1. satu kata nich….

    co cweet……!!!!!

  2. wah…tulisan yng bagus…kisahnya menarik…

    Salam Ukhuwah
    -pedanglaut-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: